Blog Islami yang berdasarkan Quran dan Hadits.

Saturday, July 26, 2014

7 Amalan Sunah Saat Lebaran

7 Amalan Sunah Saat Lebaran (Idul Fitri)

Panduan Shalat Idul Fitri dan Merayakan Lebaran. Apa hukumnya Malam Takbiran?

YANG dimaksud amalan sunah saat Lebaran atau Idul Fitri adalah amalan yang dilakukan Rasulullah Saw dan para sahabat, ketika "merayakan" hari raya umat Islam ini.
Dari berbagai sumber, kita bisa menemukan amalan yang dicontohkan dan dianjurkan Rasulullah Saw menjelang dan/atau saat lebaran antara lain sebagai berikut:

1. Mandi
Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat Id. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.” [Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad]
2. Makan
Makan sebelum berangkat ke tempat Shalat Idul Fitri. Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah Saw biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” [HR. Ahmad]
Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak berangkat shalat Idul Fitri, beliau makan beberapa kurma, dan beliau makan dengan jumlah ganjil.” (HR. Al-Bukhari)
Dari Buraidah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sampai beliau makan terlebih dahulu. Ketika Idul Adha, beliau tidak makan sampai shalat dahulu.” (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah).
Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied. [Shahih Fiqh Sunnah].
3. Mengenakan Pakaian Terbaik
Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi Saw biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.” [Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad,]
4. Takbir dalam Perjalanan ke Tempat Shalat Id
Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Nabi Saw biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” [As Silsilahh Ash Shahihah]
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).” [HR. Al Baihaqi].
5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Shalat Id
Dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki, dan beliau pulang juga dengan berjalan. (HR. Ibnu Majah)
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Termasuk sunnah: keluar menuju lapangan dengan jalan kaki dan makan sebelum berangkat (Idul Fitri).” (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah)
6. Jalan yang Berbeda
Berangkat dan pulang melewati jalan yang berbeda, sebagaimana hadits Jabir radliyallahu ‘anhu. (HR. Al-Bukhari)
"Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang (dari shalat) ‘ied. (Zadul Ma’ad)
7. Mengajak Semua Orang ke Tempat Shalat Id

Ini untuk syi'ar sekaligus silaturahmi dan bergembira, dalam semangat ukhuwah Islamiyah.

“Nabi Saw memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“ [HR Muslim]

Bagaimana dengan Malam Takbiran?
Ada dua pendapat di kalangan ulama: boleh dan tidak boleh.
An-Nawawi as-Syafii dalam Al Majmu 5/48 mengatakan, “Pendapat mayoritas ulama adalah tidak ada takbiran saat malam Ied, takbiran hanya dilakukan saat berangkat menuju tempat shalat Ied”.
Contoh dari Nabi Saw, sebagaimana poin 4 di atas, "takbiran" dilakukan dalam perjalanan menuju tempat shalat Id, bukan malam hari sebelum hari lebaran.

Yang pasti, mengagungkan Asma Allah (takbir) usai Ramadhan diperintahkan dalam Al-Quran:
"Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menjelaskan bahwasanya ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir. Atas dasar ayat tersebutlah ulama membolehkan takbiran di masjid atau "malam takbiran".

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi jilid 2 halaman 302 disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar masyru`iyah atas ibadah takbir di malam `Ied, terutama `Iedul Fithri.

"Jumhur ulama berpendapat: disunnahkan bahkan bertakbir dengan nyaring di mana pun, di rumah, di pasar, di jalan-jalan, di masjid ketika menjelang dilaksanakannya salat id." (Fikhul-Islam wa Adillatuh karya Prof. DR. Wahbah Zuhayli).

Ucapan Idul Fitri

Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri atau Selamat Lebaran yang Benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah Saw.

Taqobbalallahu minna waminkum

Terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat bahwa mereka biasa mengucapkan Selamat Hari Raya dengan ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).
Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, bahwa jika para sahabat Rasulullah Saw berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).”
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

Disebutkan dalam kitab Fathul Bari, diriwayatkan kepada kami dalam Al-Muhamiliyat dengan sanad yang baik dari Jubair bin Nufair berkata : dahulu para sahabat Rasulullah Saw apabila mereka bertemu pada hari raya sebagian mengucapkan kepada sebagian lain "Taqabbalawahu minna waminkum".

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”

Saling Berpelukan, Boleh?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum jabat tangan, saling berpelukan dan saling mengucapkann selamat setelah shalat ‘ied?”
Syaikh rahimahullah menjawab, “Perbuatan itu semua dibolehkan. Karena orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, ‘Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya’"

Mohon Maaf Lahir Batin
Ucapan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat Idul Fitri --tidak ada satu dalil pun yang menunjukkan seperti ini. Namun, hukumnya boleh saja karena tidak ada larangan.
Minal ‘Aidin wal Faizin
Ucapan “Minal ‘Aidin wal Faizin” artinya “Kita kembali dan meraih kemenangan”, juga tidak ada dalilnya, sebagaimana tidak ada larangan mengucapkannya. Selengkapnya adalah sebuah doa:Allahummaj'alnaa minal 'aidin wal faizin.
'Id Mubarak
Ibnu Taimiyah ditanya dalam Majmu Fatawa (24/253) : apakah ucapan selamat hari raya yang biasa diucapkan orang-orang : Ied Mubarak (hari raya yang diberkahi), dan semacamnya, apakah ada dasarnya dalam syariat atau tidak?
Maka beliau menjawab : adapun ucapan selamat hari raya dimana sebagian orang mengucapkan kepada sebagian lain apabila bertemu setelah sholat Id : Taqabbalallahu minna waminkum, dan semoga Allah menyampaikanmu tahun depan, dan semacam itu, maka ini telah diriwayatkan oleh sebagian sahabat bahwa dahulu mereka melakukannya, dan dibolehkan sebagian Imam seperti Ahmad dan lainnya, tetapi Ahmad berkata : aku tidak mau memulainya lebih dahulu, namun jika seseorang mengucapkannya kepadaku maka aku menjawabnya, karena itu jawaban ucapan selamat yang hukumnya wajib. 

Mengucapkan selamat terlebih dahulu bukan merupakan sunah yang diperintahkan, dan juga bukan termasuk yang dilarang, barangsiapa yang mengerjakannya maka dia memiliki panutannya, dan siapa yang meninggalkannya maka diapun memiliki panutannya. Wallahu A'lam Bish Shawabi.

Sumber : Risalah Islam

Thursday, July 24, 2014

Hutang & Hidup

Khalifah Umar bin Khattab dan Anaknya.

Umar bin Khattab (581-644) adalah khalifah yang telah membentangkan pengaruh Islam di sejumlah wilayah yang berada di luar Arab Saudi. Di masanya, Mesopotamia, sebagian Persia, Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Utara, dan Armenia, jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Kekuatan sebagai pemimpin sangat luar biasa, hadir berkat tempaan sang pemimpin agung, Muhammad Rasulullah SAW.

Namun, di balik kesuksesannnya sebagai pemimpin negara, Umar tetaplah seorang pribadi yang sangat sederhana.

Suatu hari, anak laki-laki Umar bin Khattab pulang sambil menangis. Sebabnya, anak sang khalifah itu selalu diejek teman temannya karena bajunya jelek dan robek.

Umar lalu menghiburnya. Berganti hari, ejekan teman-temannya itu terjadi lagi, dan sang anak pun pulang dengan menangis.

Setelah terjadi beberapa kali, rasa ibanya sebagai ayah mulai tumbuh. Tak cukup nasihat, anak itu meminta dibelikan baju baru. Tapi, dari mana uangnya ? Umar bingung, gajinya sebagai khalifah tidak cukup untuk membeli baju baru.

Setelah berpikir, ia pun punya ide. Umar menyurati baitul mal (bendahara negara).

Isi surat itu, (kira-kira bunyinya begini):

“Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek. Untuk pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan. Semoga Allah merahmati kita semua.“

Mendapati surat dari sang Khalifah Umar, kepala baitul mal pun memberikan surat balasan. Bunyinya, kurang lebih begini:

“Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari gaji engkau sebagai khalifah setiap bulan. Tetapi, sebelum pengajuan itu kami penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana engkau yakin bahwa besok engkau masih hidup?“

Membaca balasan surat itu, bergetarlah hati Umar. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Umar tidak bisa membuktikan bahwa esok hari ia masih hidup. Ia sadar telah berbuat salah. Ia bersujud sambil beristigfar memohon ampun kepada Allah.

Setelah memohon ampun, ia pun memanggil anaknya. “Wahai anakku, maafkan ayahmu. Aku tak sanggup membelikan baju baru untukmu. Ketahuilah, kemuliaan seseorang bukan diukur dari bajunya, melainkan dari kemuliaan akhlaknya. Sekarang, pergilah engkau ke sekolah, dan katakan saja kepada teman-temanmu bahwa ayahmu tak punya uang untuk membeli baju baru.“

Subhanallah...Allahuakbar.

(Sumber: Rubrik “Hikmah” Harian Republika)

Riya Pengikis Amal Manusia

Riya' adalah penyakit yang tidak boleh disepelekan. Dia mudah menjangkiti siapa dan kapan saja. Dia adalah perusak amal ibadah. Jika penyakit riya' sudah menjalar dan mengakar maka obatnya harus mujarab. Penyakit ini sangat halus sehingga perlu usaha lebih untuk menangkalnya demi meraih kebahagiaan nan abadi.

Definisi Riya'

Riya' kepada manusia adalah mengerjakan sesuatu agar manusia melihatnya. Ali al-Jurhani Rahimahullah berkata: "riya' adalah meninggalkan ikhlash dalam beramal karena mencari perhatian selain AllahAzza wa Jalla".

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata "Riya' adalah seseorang beribadah kepada Rabbnya tetapi dia membaguskan ibadahnya karena ingin dilihat orang lain hingga yang melihat berkata "Duhai alangkah alimnya orang ini', alangkah bagusnya ibadah dia dan semisalnya. Jadi dia menghendaki pujian manusia ketika beribadah kepada Allah, dia tidak menghendaki pendekatan kepada manusia dengan ibadah karena jelas ini syirik besar. Riya' yang ringan adalah syirik kecil dan riya' yang banyak adalah syirik besar.

Hukum Riya'

Riya' termasuk dosa besar  karena begitu banyak ancaman dan bahaya yang menegaskan keharamannya. Imam adz-Dzahabi rahimahullah memasukkan riya' kedalam dosa besar dan menyebutkan dalil-dalilnya dari al-qur'an, hadits dan atsar salaf (lihat al-kabaair hlm. 276 tahqiq Masyhur Hasan Salman)

Ibnu Hajar al- Haitami mengatakan " keharaman riya' telah ditegaskan dalam al-qur'an, hadits dan kesepakatan umat. Haramnya riya' sebagai syirik kecil karena pelecehannya terhadap hak Allah. oleh karena itu riya'  termasuk dosa besar yang membinasakan. Didalam riya' juga terdapat penipuan terhadap manusia, karena dia menampakkan seolah-olah orang yang iklash dan taat kepada Allah padahal bukan" (az-zawajir 2/44)

Bentuk-Bentuk Riya'

  • Riya' dalam agama dan badan. misalnya dengan menampakkan wajah yang pucat dan kurus agar orang menyangkanya ahli ijtihad dan ibadah atau orang yang selalu memikirkan agama dan akhirat.
  • Riya' dalam pakaian dan penampilan, misalnya membiarkan bekas tanda sujud  di wajahnya, rambut acak-acakan, kusut agar orang menilai bahwa dia adalah pengikut sunnah serta ahli ibadah. 
  • Riya' dalam perkataan, misalnya sesorang yang selalu menggerak-gerakkan bibirnya didepan manusia agar dikira selau berdzikir atau dibuat-buat baca alqur'an supaya dikira khusyuk.
  • Riya' dalam perbuatan seperti memnajangkan shalat, rukuk atau sujud karena merasa dilihat manusia
  • Riya' kepada teman semisal memaksakan diri sering berkunjung (sowan) kerumah ustadz biar dikatakan rajin sowan kepada ustadz.

Riya' yang membatalkan amalan

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "ketahuilah bahwasanya amalan yang ditujukan kepada selain Allah bermacam-macam, adakalanya murni karena riya'.  Tidaklah yang ia niatkan kecuali mencari perhatian orang demi meraih tujuan-tujuan duniawi, sebagaimana halnya orang-orang munafik didalam sholat mereka. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia [QS.An-Nisa'(4): 142]

Riya' yang murni hampir selalu menghantui seorang mukmin dalam ibadah wajibnya serta pada amalan yang nyata dan terlihat manfaatnya Tentunya sesoarang muslim tidak ragu lagi bahwa amalan yang murni didasari dengan riya' tidak bernilai dan sia-sia dihadapan Allahsubhanahu wa ta'ala. Pelakunya berhak mendapatkan murka dan balasan dari Allah Azaa wa Jalla.

Jika suatu amalan terkotori oleh riya' dari asal niatnya maka batallah amalan tersebut. Namun bila asala amalannya karena Allah kemudian perasaaan riya' muncul ditengah-tengah amalannya, apabila dia berusaha menolaknya maka hal itu tidak membahayakan, tetapi bila ia malah senang dengan riya' maka ulama berselisih akan hukumnya. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir ath-Thobari menguatkan pendapat bahwa amalannya tidak terhapus, dia akan dibalas sesuai dengan niatnya yang pertama tadi. pendapat ini diriwayatkan dari hasan al-Basri dan selainnya.

Bila seorang beramal ikhlas karena Allah, kemudian Allah memberikan rasa cinta dan pujian manusia hingga manusia memujinya dan diapun senang akan karunia dan rahmat-Nya kemudian bergembira maka hal tersebut tidak membahayakan dan sah-sah saja. Dasarnya adalaha hadits Abu dzar radhiyallahu 'anhu bahwasanya nabi shallallahu a'laihi wasallampernah ditanya tentang seorang yang beramal karena Allah kemudian manusia memujinya. Rasulullah shallalallahu 'alaihi wasallam menjawab: "itu adalah berita gembira seorang mukmin yang didahulukan" (HR. Muslim 2642, jami'ul Ulum wal Hikam: 1/79-84)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan "Ibadah yang terkotori dengan ria ada tiga keadaan:
1. Dorongan dalam ibadahnya dari asalnya hanya untuk riya' kepada manusia. maka jelas ini syirik
2. Asal niatnya ikhlas karena Allah kemudian muncul riya' ditengah-tengah ibadah.apabila ibadah itu tidak ada sangkut pautnya antara awal dan akhirnya maka ibadah yg tidak terkotori riya' tersebut sah dan diterima sedang ibadah yang terkotori riya tertolak. Akan tetapi apabila ibadah itu saling berhubungan  antara awal hingga akhir maka ada dua keadaan

  • Dia berusah menolak riya' tersebut dan tidak senang maka ibadahnya sah dan tidak ada pengaruhnya rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari perasaan yang muncul pada dirinya selama dia belum berbuat atau berbicara."(HR. Bukhari: 4968 dan Muslim: 127).
  • Dia tidak berusaha menolak riya' yang muncul bahkan senang dan merasa nyaman, maka batal seluruh ibadah yang ia kerjakan karena antara akhir dan awal ibadah tersebut saling berhubungan.
3. Bila riya' muncul setelah selesai ibadah maka tidak ada pengaruhnya sedikit pun kecuali dalam hal sedekah maka tidak boleh kita menyebut-nyebut pemberian tersebut dan menyakiti hati orang yang diberi. Allah subhanahu wa Ta'ala berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Baqarah: 264).

Malapetaka dan Bahaya Riya'

1. Kehancuran umat.
Alah menolong umat ini karena keikhlasn orang-orang yang lemah. Jika ikhlash sudah terangkat maka kehancuran bagi umat ini. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah Alah menolong imat ini melainkan karena orang-orang lemah, karena doa, shalat dan keikhlasan mereka". (An-Nasai 3178, dishahihkan oleh syaikh albani rahimahullah dalam shahih targhib wa tarhib: 1/6 ash-shohihah 2/443)

2. Dosa besar yang diancam neraka.
Orang yang riya' apabila belum bertaubat dari perbuatannya maka Allah akan mengancam dengan siksa neraka. Allah berfirman:


فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ.الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ.الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya,(QS.Al-Ma'un: 4-6)
Ingatlah kisah tiga orang yang berjihad,bersedekah dan pandai alqur'an. mereka tidaklah mengerjakan amalannya kecuali karena agar dikatakan pemberani, dermawan dan orang alim. akhirnya Allah mencampakkan merka kedalam neraka. (HR. Muslim: 1905)

3. Mewariskan kehinaan.
Allah tidaklah menghendaki dari orang-orang yang bermaksiat kecuali kehinaan! Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang sum'ah kepada manusia dengan amalannya maka Allah akan beberkan sum'ahnya di hadapan seluruh manusia. Allah akan menghinakan dan merendahkannya (Shahih at- Targhib wa Tarhib: 1/16)

4. Aibnya akan terbongkar pada hari kiamat.
Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu a'anhu Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba didunia ini mengerjakan sum'ah dan riya' melainkan Allah akan membeberkan aib riya' dan sum'ahnya dihadapan seluruh manusia pada hari kiamat. (HR. al-Hakim 4/127,ath-Thabarani 2803, dishahihkan oleh syaikh Albani rahimahullah dalm shahih Targhib 28, ash-Shahihah 934)

5. Lebih berbahaya dari fitnah dajjal.
"Maukah kalian aku kabari suatu perkara yang sangat kutakutkan dari fitnah dajjjal?" mereka menjawab: "tentu wahai rasulullah!" Rasulullah bersabda: "perkara itu ialah syirik yang sangat halus. yaitu bila seseorang sholat kemudian  dia membaguskan shalatnya karena ada perhatian orang yang melihatnya!!"(HR Ibnu Majah: 4204, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam al-Misykah 5333)

6. Menghapus amalan sholeh (lihat QS al-Baqarah 264 diatas)

7. Menyesal pada hari kiamat

Kiat Agar Selamat Dari Riya'

1. Sadarilah hanya Allah yang Maha Agung, untuk apa kita besusah payah mencari pujian manusia sementara hal itu tidak ada gunanya dihadapan Allah bahkan amalan kita bisa terhapus..!!apakah kita akan mencari ridho manusia dengan membuat murka Allah.

2. Ingat adzab Allah sangat pedih, dengan merenungi ancaman Allah terhadap orang yang berbuat riya' berupa adzab dan siksa insha Allah akan membuat kita sadar untuk memperbaiki ibadah iklas karena Allah dan meninggalkan riya'

3. Ikhlas dalam beramal akan berbuah surga. janganlah tertipu oleh sanjungan manusia  atau dunia yang semu hingga terjatuh dalam penyakit riya'.(lihat QS.al-Insan: 9-12)

4. Dunia kehidupan sementara,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.al Kahfi: 45)
Amalan shalih dan ikhlas akan bermanfaat ketika kita telah meninggal dunia

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS. al Kahfi 110)

5. Awas su'ul khotimah. mawas dirilah dengan akhir kehidupan kita, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'seluruh hamba akan dibangkitkan dalam keadaan saat dia meninggal dunia' (HR Muslim: 2878)

6. Berteman dengan orang yang ikhlas dan bertaqwa.
karena pengaruh teman sangatlah kuat teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak pada kebaikan dan mendorong dalam hal ketaatan.

7. Berdoa
Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita melalui sabdanya, ‘Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.’ Lalu ada orang yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?’ Rasulullah berkata, ‘Ucapkanlah Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam (‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).HR. Ahmad (4/403). Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jami’3/233

Bukan Termasuk Riya'

1. Mendapat pujian bukan karena keinginannya.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Al Imam an Nawawi rahimahullah membuat suatu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’ “. Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?: Beliau menjawab, “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin “ (H.R. Muslim 2642).

2. Mengerjakan Ibadah ketika bersama orang yang shalih
Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shaleh sehingga lebih semangat dalam beribadah. Hal ini tidak termasuk riya’. Ibnu Qudamah mengatakan, “Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang suka bertahajud (shalat malam), lalu ia pun ikut melaksanakan tahajud lebih lama. Padahal biasanya ia hanya melakukan shalat malam sebentar saja. Pada saat itu, ia menyesuaikan dirinya dengan mereka. Ia pun ikut berpuasa ketika mereka berpuasa. Jika bukan karena bersama orang yang ahli ibadah tadi, tentu ia tidak rajin beribadah seperti ini”

Syaikh Salim al- Hilali Hafizhohullah mengomentari: "Apabila  semangatnya dalam ibadah karena ingin menghilangkan halangan dan rasa malasnya maka ini terpuji, akan tetapi bila semangat  itu muncul karena agar jangan dikatakan malas dalam ibadah maka itu tercela dan kehancuran baginya.(ar-riya' hal55-56).

3. Menyembunyikan dosa
Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah menyembunyikan dan tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”(HR. Bukhari 5721 dan Muslim 2990)
barangsiapa yang mengira bahwa menyembunyikan dosa adalah riya' dan menceritakan dosa termasuk ikhlas maka sungguh ia telah keliru dan terjatuh dalam tipuan syaithan(setan)

4. Memakai baju dan sandal yang bagus
Hal ini tidak termasuk riya’ karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah. berdasarkan hadits Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah (semut kecil).” Lantas ada seseorang yang berkata,“Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan indah (bagus) ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(HR. Muslim 91)

5. Menampakkan syi'ar islam
Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti haji, umroh, shalat jama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya’ ketika menampakkan ibadah tersebut, karena di antara keawajiban yang ada harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain. Karena hal tersebut merupakan bentuk penampakan syiar-syiar islam.

Penulis : Ustadz Abdillah Syahrul Fatwa a-Salim

Sabar

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
( سورة البقرة , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #177)

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
( سورة الرعد , Ar-Rad, Chapter #13, Verse #22)

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
( سورة النحل , An-Nahl, Chapter #16, Verse #96)

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.
( سورة الروم , Ar-Room, Chapter #30, Verse #60)

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
( سورة الأحزاب , Al-Ahzab, Chapter #33, Verse #35)

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
( سورة الزمر , Az-Zumar, Chapter #39, Verse #10)

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.
( سورة غافر , Ghafir, Chapter #40, Verse #55)

Surga Hak Allah

Abu Hurairah RA berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Ada dua orang lelaki bersaudara dari kaum Bani Israil. Salah satu di antaranya suka berbuat dosa, sedangkan yang lainnya ahli ibadah. Suatu saat ahli ibadah itu senantiasa melihat temannya membuat dosa, ia pun berkata kepadanya: ‘Hentikanlah perbuatan dosa itu!’ Kemudian, pada hari lain si ahli ibadah mendapati temannya itu berbuat dosa lagi, maka berkatalah ia kepadanya: ‘Hentikanlah perbuatan dosa itu!’ Orang yang berbuat dosa itu menyanggah: ‘Biarkanlah aku (ini adalah urusanku) dengan Rabbku! Apakah kamu diutus untukku sebagai pengintai?’ Maka berkatalah ahli ibadah kepada temannya: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu! (Atau Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam Syurga!) Setelah itu, kedua-duanya meninggal dunia dan berkumpul di sisi Rabb Semesta Alam. Dia berfirman kepada ahli ibadah itu: ‘Apakah kamu mengetahui Aku atau apakah kamu berkuasa dari apa yang berada di tanganKu?’ Allah berfirman kepada orang yang berbuat dosa: ‘Pergilah dan masuklah Syurga dengan rahmatKu!’ Sementara kepada yang satunya, Dia berfirman: ‘Masukkanlah orang ini ke dalam Neraka!’”

Surga Karunia Allah

Rasulullah saw bersabda :
عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : إِعْمَلُوْا وَسَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَاعْلَمُوْا أَنَّ اَحَدًا مِنْكُمْ لَنْ يُدْخِلَهُ عَمَلُهُ الجَّنَّةَ قَالُوْا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ وَلاَ أَنَا إلاَّ اَنْ يَتَغَمَّدَ نِيَ الله ُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَ فَضْلٍ وَفِى رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِى بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ. ﴿ ح.ر مسلم ۸:۱٤۰، إبن كثر ٤:٥۰۱﴾
Dari Aisyah, dari Nabi SAW bahwasanya Beliau bersabda: Beramallah kalian, Sederhanalah (jangan berlebih-lebihan),berusahalah benar dan Istiqomah.Ketahuilah sesungguhnya amal seseorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke Surga,mereka (para sahabat ) bertanya; apakah Anda juga demikian ya Rasulullah ? Beliau menjawab ; aku juga , kecuali Allah menempatkan aku dengan Rahmat dan karunia-Nya dan pada riwayat lain menurut Al- Bukhari : dengan Maghfiroh dan Rahmat-Nya.
(HR. Muslim 8:140, Ibnu Katsir 4:501

Jaminan Surga Untuk NABI Muhammad

Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad akan masuk surga:
Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (Qs 48:2)

Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad yang pertama masuk surga:
Hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku datang ke pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta supaya pintu surga dibuka. Penjaga surga bertanya : “Engkau siapa?” Saya menjawab: “Muhammad!” Lalu dia berkata : “Saya diperintahkan, supaya tidak membukakan pintu surga kepada siapapun sebelum engkau”

Allah memberikan jaminan bahwa 10 sahabat Nabi masuk surga:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Allah memberikan jaminan bahwa 70.000 umat Nabi Muhammad akan masuk surga tanpa hisab: Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata: “Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak minta di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda,
“Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]

Allah memberikan jaminan bahwa umat Islam masuk surga:
Hadits Nabi
يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى رواه البخاري
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.” Shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa yang tidak mau?” Beliau menjawab, “Mereka yang mentaatiku akan masuk surga dan yang menentangku maka dia telah enggan masuk surga.”
Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka.”
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan.”
Rasulullah Saw bersabda: “Semua ummatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan (tidak mau).” (HR Bukhori 22/248)

Sifat Terpuji

Bersabar dan Memberi Maaf
Oleh KH Abdurrahman Wahid

Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manusia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang kepada kesabaran (Wal-‘ashri innal–insâna la fî khusrin illâ-lladzîna ‘âmanû wa ‘amilus-shâlihâti wa tawâshau bil-haqqi wa tawâshau bis-shabr)” QS al-‘Ashr (103):1-3).

Ayat tersebut mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran barulah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran. Kadangkala kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.

Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang menimpa, (tidak lain merupakan) hal-hal berupa buah tangan kalian sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian (besar) hal-hal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ kasabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)” (QS al-Syura (42):30).

Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim. Inilah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh mendiang Pendeta Marthin Luther King Junior di Amerika Serikat, dalam tahun-tahun 60-an, ketika ia memperjuangkan hak-hak sipil (civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam berhak memilih dalam pemilu.

Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebenaran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sebagaimana dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama, juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi sifat manusia.

Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Kekerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu. Hal ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Sudah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.

Antara Dendam dan Maaf

Memberi dan Meminta Maaf
Drs.H. Abdul Rahman

Memberi dan meminta maaf kepada seseorang merupakan sikap yang dianjurkan oleh Allah SWT, sebab dengan sikap tersebut, sikap dendam dan rasa marah dapat dihilangkan. Sifat dendam dan rasa marah itulah sesungguhnya yang sering menyebabkan terjadinya berbagai tindak kekerasan dan kekejaman. Oleh karena itu dengan mengedepankan sikap memberi dan meminta maaf, perbuatan tidak terpuji itu dapat dihindari. Memang diakui bahwa tidak semua dendam dan marah itu timbul akibat seseorang enggan memberi dan meminta maaf, tetapi yang jelas sikap enggan memberi dan meminta maaf dapat menimbulkan dendam dan marah seseorang. Selain itu, sikap mudah memberi dan meminta maaf merupakan salah satu ciri orang bertaqwa. Oleh karenanya, orang yang suka memberi dan meminta maaf nilai kepribadiannya dan ketaqwaannya sangat luhur. Itulah sebabnya maka sikap ini senantiasa dimiliki oleh para nabi dan rasul Allah, para sahabat utama Nabi Muhammad SAW, para ahli sufi dan orang-orang yang saleh.

Sikap seperti itu misalnya ditunjukkan oleh Nabi Yusuf AS, yang memaafkan saudara-saudaranya yang dulu membuang beliau, bahkan memasukkannya ke dalam sumur. Sikap tersebut juga ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang memberi maaf kepada penduduk Makkah yang memusuhi dakwahnya, menyiksa, dan mengusirnya. Dengan sikap inillah satu persatu seluruh penduduk Makkah masuk Islam dengan berbondong-bondong. Demikian pula beliau senantiasa meminta maaf kepada para sahabatnya dan ummatnya, walaupun mereka mengakui bahwa beliau tidak pernah berbuat salah terhjadap mereka. Menjelang akhir hayatnya, beliau mengumumkan dihadapan para sahabatnya bahwa beliau meminta maaf kepada mereka dan menyampaikan kepada mereka bahwa siapa-siapa yang merasa disakiti atau tersinggung selama dalam kepemimpinannya agar mereka mengumumkannya dan mempersilahkan untuk menuntut balas dendam kepada beliau. Maka pada akhir hayatnya beliau tidak meninggalkan kesalahan sama sekali, bahkan beliau meninggal dengan penuh keharuman dan ditengah-tengah kecintaan ummat yang amat mendalam. Sikap pemaaf Rasulullah SAW juga diteladani oleh para sahabatnya dan orang-orang yang saleh. Dalam hal sikap pemaaf, Allah SWT berfirman yang artinya :
........ dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran : 134)
Ayat tersebut sedang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, yang berarti sikap suka memberi dan meminta maaf adalah termasuk sikap orang yang bertaqwa.

Namun yang masih kita prihatinkan hingga sekarang ini adalah masih banyaknya orang yang enggan memberi maaf atas kesalahan yang diperbuat orang lain, walaupun orang tersebut sudah bertaubat dan meminta maaf. Juga masih banyak orang yang tidak mau meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan terhadap orang lain. Padahal jelas-jelas kesalahan itu dilakukan olehnya. Akibat sikap enggan memberi dan meminta maaf itulah maka sifat-sifat dendam, marah, dan benci yang ada di masyarakat itu timbul dikarenakan dari keengganan tersebut sulit dihilangkan. Akhirnya sifat-sifat tersebut merusak tali persaudaraan. Keengganan memberi dan meminta maaf itu terjadi karena :
Pertama, akibat rasa dendam yang timbul dalam hati. Rasa dendam itu kemudian melahirkan kemarahan sehingga seseorang sulit untuk meminta maaf, bahkan lebih buruk lagi jika timbul tindakan balas dendam. Tindakan balas dendam inilah yang akhirnya merugikan dan meresahkan masyarakat. Memang rasa dendam bisa timbul salah satu sebabnya karena seseorang enggan memberi dan meminta maaf, tetapi karena dendam pula seseorang menjadi enggan memberi dan meminta maaf.

Sifat dendam yang kemudian tidak mempedulikan kata maaf terhadap seseorang itu bisa terjadi karena dua sebab yaitu karena dengki (iri hati) dan akibat kejahatan yang dilakukan seseorang terhadap orang yang dendam itu.
Dendam yang timbul karena dengki itu merupakan penyakit hati manusia yang tidak ingin melihat orang lain bahagia atau sukses. Hanya karena tidak senang melihat orang bahagia / sukses, ia terkadang tega melakukan tindak kejahatan. Karena itu penyakit dengki merupakan penyakit hati yang berbahaya sekali, yang harus dikikis habis dari dalam diri manusia. Adapun dendam yang timbul akibat kejahatan orang lain sehingga terdorong ingin melakukan balas dendam, hal itu juga tidak dibenarkan oleh Islam. Sebab tindakan balas dendam hanya akan melahirkan tindakan serupa dari pihak yang dirugikan.

Oleh karena itu jalan yang paling baik adalah menghilangkan sifat atau rasa dendam tersebut. Sebab dengan hilangnya sifat atau rasa dendam itu, maka seseorang akan menjadi pemaaf, sedangkan sifat pemaaf ini akan menimbulkan simpati orang lain, hingga orang lain yang semula hatinya keras dapat berubah menjadi lunak. Yang dulunya benci menjadi cinta, yang kemarin memusuhi menjadi pembela, dan yang semula antipati berubah menjadi pendukung berat. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW, mendapat pengikut yang besar sekali, hingga seluruh penduduk jazirah Arab masuk Islam. Sekiranya beliau memiliki sifat dendam dan kasar, pasti mereka akan lari dari beliau karena takut akan tindakan balasan dari beliau terhadap mereka yang dulu pernah memusuhinya. Dalam hal sifat Nabi itu, Allah SWT berfirman yang artinya :
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu..” (QS. Ali Imran :159)

Kedua, yang menyebabkan seseorang enggan memberi atau meminta maaf ialah karena merasa tidak pernah berbuat salah. Yang demikian itu karena ia merasa tindakannya benar, dan sudah sesuai dengan prosedur hukum. Padahal tindakannya itu nyata-nyata menyengsarakan dan merugikan orang lain. Hal itu dapat terjaddi karena seseorang tidak mau mengkoreksi dirinya, yang demikian karena ia tidak mempunyai pegangan dan dasar yang kuat yang dapat dijadikan jalan untuk bermuhasabah (mengkoreksi diri).

Mengukur perbuatan jika hanya dengan pendapatnya sendiri, maka yang bersangkutan akan merasa selalu benar. Oleh sebab itu ukuran yang paling tepat untuk mengukur perbuatan seseorang ialah Al-Qur’an. Sebab dengan Al-Qur’an itulah seseorang akan mampu melihat secara adil terhadap dirinya sendiri. Sehingga bila terdapat kesalahan pada dirinya ia tidak segan-segan mengakuinya dan meminta maaf kepada yang dirugikan. Maka marilah kita senantiasa bermuhasabah agar kita senantiasa ingat bahwa kita terkadang juga bisa berbuat salah. Dengan kesadaran inilah kita akan mudah mengakui kesalahan dan tidak perlu menyalahkan orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Hasyr:18)

Ketiga, yang menyebabkan seseorang enggan memberi dan meminta maaf ialah karena menyangka bahwa sikap memberi dan meminta maaf itu merupakan simbul kelemahan dan kekalahan. Oleh karenanya seseorang akan merasa rendah diri jika harus memberi atau meminta maaf terlebih dahulu.
Anggapan seperti itu sungguh sangat keliru, karena justru sikap suka memberi dan meminta maaf itulah seseorang menjadi luhur derajatnya. Sebaliknya keengganan memberi atau meminta maaf itu menyebabkan seseorang menjadi rendah derajatnya. Satu bukti bahwa dengan sikap pemaaf Rasulullah SAW, itulah beliau semakin luhur pribadinya, dicintai ummatnya, dan semakin banyak pengikutnya, yang berarti pula semakin besar kekuatannya. Jika demikian bisa ditegaskan bahwa didalam sikap pemaaf itu ada keluhuran dan kemenangan. Dalam hal memberi maaf, Allah SWT berfirman yang artinya :
“...dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah : 237 )

Dari uraian ini dapat disimpulkan : Pertama, sikap mau memberi dan meminta maaf merupakan bukti keluhuran pribadi seseorang dan salah satu ciri orang yang bertaqwa. Kedua, dengan sikap tersebut, maka rasa dendam, benci dan permusuhan dapat dihilangkan.

Sebagai penutup marilah kita tumbuhkan dalam diri kita sikap suka memberi dan meminta maaf terhadap orang lain. Semoga Allah senantiasa memaafkan kesalahan-kesalahan kita dan memberkahi kita semua, Amin.

Wednesday, July 2, 2014

Hamba Yang Dicintai Allah

1. Orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya
Ta'atilah allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.  
(  سورة آل عمران  , Aal-e-Imran, Chapter #3, Verse #132)

2. Orang yang bertaqwa/muttaqin
Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.  
(  سورة آل عمران  , Aal-e-Imran, Chapter #3, Verse #76)


3. Orang yang beriman/mu'minin
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.  
(  سورة الأحزاب  , Al-Ahzab, Chapter #33, Verse #43)


4. Orang yang berbuat baik/muhsinin
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #195)


5. Orang yang berbuat adil/muqsithin
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.  
(  سورة المائدة  , Al-Maeda, Chapter #5, Verse #42)


6. Orang yang sabar/shabirin
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  
(  سورة الأنفال  , Al-Anfal, Chapter #8, Verse #46)


7. Orang yang bertawakal/mutawakkilin
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  
(  سورة الحجرات  , Al-Hujraat, Chapter #49, Verse #13)


8. Orang yang bertaubat/tawwabin
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,  
(  سورة التوبة  , At-Taubah, Chapter #9, Verse #117)


9. Orang yang suci/mutathohhirin
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #222)


10. Orang yang berjuang di jalan Allah dalam organisasi
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.  
(  سورة الصف  , As-Saff, Chapter #61, Verse #4)

Saturday, June 28, 2014

Sabar

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #177)

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),  
(  سورة الرعد  , Ar-Rad, Chapter #13, Verse #22)

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.  
(  سورة النحل  , An-Nahl, Chapter #16, Verse #96)

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.  
(  سورة الروم  , Ar-Room, Chapter #30, Verse #60)

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.  
(  سورة الأحزاب  , Al-Ahzab, Chapter #33, Verse #35)

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.  
(  سورة الزمر  , Az-Zumar, Chapter #39, Verse #10)

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.  
(  سورة غافر  , Ghafir, Chapter #40, Verse #55)

Wednesday, June 25, 2014

Selamat Berpuasa

(1)  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #183)
(2)  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #184)
(3)  (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #185)

Thursday, September 12, 2013

Wanita Utama

Sayidatina Fatimah r.ha

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah S.W.T. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.
Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah S.A.W.
Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah S.W.T untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.
Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah S.A.W. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu.
Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.
“Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu,” Rasulullah SAW memberi nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.
Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah S.W.T sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak – bentak, marah-marah, meninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.
Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan ‘Haji Wada’ pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa’, gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi’, Madinah.
Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah S.W.T. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.
Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah S.W.T. Justru, wanita yang sukses di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.

Imam Ghazali

Pertanyaan imam ghazali

“Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185)

“Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
MASA LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

“Apa yang paling besar di dunia ini?”
HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

“Apa yang paling berat di dunia?”
MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.

“Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat.

“Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Monday, July 22, 2013

Kebaikan Rasulullah

Delapan Dirham

Rasulullah pagi itu sibuk memperhatikan bajunya dengan cermat, baju satu-satunya dan itupun ternyata sudah usang, baju yang setia menutup aurat beliau. Meringankan tubuh beliau dari terik matahari dan dinginnya udara. Baju yang tidak pernah beristirahat.

Tetapi beliau tak mempunyai uang sepeser pun. Dengan apa beliau harus membeli baju? Padahal baju yang ada sudah waktunya diganti. Rasulullah sebenarnya dapat saja menjadi kaya mendadak, bahkan terkaya di dunia ini. Tapi sayang, beliau tak mau mempergunakan kemudahan itu. Jika beliau mau, Allah dalam sekejap bisa mengubah gunung dan pasir menjadi butir-butir emas yang berharga. Beliau tak sudi berbuat demikian karena kasihnya kepada para fakir yang papa. Siapakah yang akan menjadi teladan jika bukan beliau.. ? Contoh untuk menahan derita, menahan lapar dan dahaga, menahan segala coba dan uji Allah dengan kesabaran. Selalu mensyukuri nikmat Allah berapa pun besarnya. Siapa lagi kalau bukan beliau yang menyertai umatnya dalam menjalani iradat yang telah ditentukan Allah. Yaitu kehidupan dalam jurang kedukaan dan kemiskinan. Siapa pula yang harus menghibur mereka agar selalu bersabar dan rela dengan yang ada selain beliau ? Juga siapa pula yang harus menanamkan keyakinan akan pahala Allah kelak di akhirat jika bukan beliau ?

Yah,… hanya beliaulah yang mampu menjalankan berbagai hal diatas. benar,… beliaulah satu-satunya manusia yang mendapatkan amanat dari Allah untuk semua umat manusia. Tugas yang lebih murni dan mulia daripada intan berlian serta butiran emas yang lain. Lebih halus dari sutera serta lebih indah dari segala keindahan yang dikenal manusia di dunia ini. lebih megah dari segala kedudukan dan derajad kehidupan manusia yang katanya sudah megah.

“Semua itu hanyalah merupakan kesenangan dunia sedang di sisi Allah yang paling baik dan sebaik-baik tempat kembali” Perjuangan itu tidak mudah. bahkan sangat berat bagi beliau. Menegakkan yang hak hanya dapat dicapai dengan penuh keimanan dan kekuatan. sabar dalam menghadapi setiap malapetaka yang menimpa, bersyukur yang dilakukan dengan hati bersih. dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam duka maupun suka, bersyukur dan keimanan harus selalu menyertai. Itulah pokok risalah yang dibawa Rasulullah S.A.W .

Allah Maha Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya terkasih kebingungan. Rasulullah diberinya rezeki sebanyak delapan dirham. Bergegas beliau melangkah ke pasar. Tentunya kita maklum. uang sekian itu dapat dibelikan apa. Apakah cukup untuk membeli makan, minum, serta pakaian penutup badan ? Oleh sebab itu, bergembiralah hai para fakir dan miskin! Nabi kita, Muhammad S.A.W telah memberikan contoh begitu jelas. Nabi yang kita cintai, hamba kesayangan Allah pergi ke pasar dengan uang sedikit seperti yang kita miliki. Tetapi nabi kita ini, hamba Allah yang di bumi bernama Ahmad, sedang dari langit bernama Muhammad dengan ridha pergi ke pasar berbekal uang delapan dirham untuk berbelanja. Manusia penuh nur dan inayah Allah yang dilahirkan di makkah. meskipun beliau miskin, beliau senang sekali hidup. beliau belum ingin mati meski kemiskinan menjerat setiap hari.

Di tengah perjalanan menuju pasar, beliau menemukan seorang wanita yang menangis. Ternyata wanita yang kehilangan uang. Segera beliau memberikan uangnya sebanyak dua dirham. Beliau berhenti sejenak untuk menenangkan wanita itu. Rasulullah bergegas menuju ke pasar yang semakin ramai. Sepanjang lorong pasar banyak sekali masyarakat yang menegur beliau dengan hormat. Selalu menjawab dan memberikan salam yang mengingatkan akan kebesaran Allah semata. Beliau langsung menuju tempat di mana ada barang yang diperlukannya. Dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham. Beliau segera pulang.

Di perjalanan beliau bertemu dengan seorang tua yang telanjang. Orang tersebut dengan iba memohon sepotong baju untuk dipakainya. Rasulullah yang memang pengasih itu tidak tahan melihat. Langsung diberikannya baju yang baru dibeli. Beliau kembali ke pasar utnuk membeli baju lagi seharga dua dirham. Tentu saja lebih kasar dan jelek kualitasnya daripada yang empat dirham. dengan gembira beliau pulang membawa bajunya.

Langkahnya dipercepat karena sengatan matahari yang semakin terik. Juga angin malam yang telah mulai berhembus pelan-pelan. Beliau tidak ingin kemalaman di jalan. Tak lama beliau melangkah ke luar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi. Wanita itu kelihatan bingung dan sangat gelisah. Rasulullah S.A.W mendekat dan bertanya mengapa. Wanita itu ternyata ketakutan untuk pulang. Dia telah terlambat dari batas waktu, dan takut dimarahi majikannya jika pulang nanti. Rasulullah S.A.W langsung menyatakan akan mengantarkannya.

Wanita itu berjalan yang diikuti Rasulullah S.A.W dari belakang. Hatinya tenang karena Rasulullah S.A.W pasti akan melindungi dirinya. Dia yakin majikannya akan memaafkan, karena kepulangan yang diantarkan oleh manusia paling mulia di dunia ini. Bahkan mungkin akan berterima kasih karena pulang membawa kebaikan bersama dengan kedatangan nabi dan rasul mereka. Mereka terus berjalan hingga sampai ke perkampungan kaum Anshari. Kebetulan saat itu yang ada hanyalah para isteri mereka.

“Assalamu’alaikum warahmatullah” , sapa Rasulullah S.A.W keras. Mereka semuanya diam tak menjawab. Padahal mereka mendengar. Hati mereka diliputi kebahagiaan karena kedatangan Nabi. Mereka menganggap salam Rasulullah S.A.W sebagai berkah dan seperti lebaran saja. Mereka masih ingin mendengarnya lagi. Ketika tak terdengar jawaban, Rasulullah S.A.W memberi salam lagi. Tetap tak terdengar jawaban. Rasulullah S.A.W mengulang untuk yang ketiga kali dengan suara lantang, Assalamu’alaikum warahmatullah. Serentak mereka menjawab.

Rasulullah sangat heran dengan semua itu. Beliau menanyakan pada mereka apa sebabnya. Mereka mengatakan, ” Tidak ya Rasulullah. Kami sudah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapatkan salam lebih banyak”.  Rasulullah melanjutkan, “Pembantumu ini terlambat pulang dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerimanya”. Ucapan ini sangat mengejutkan mereka. Kasih sayang Nabi begitu murni, budi pekerti yang utama, yang indah tampak dihadapan mereka.

Beliau menempuh perjalanan begitu panjang dan jauh hanya untuk mengantarkan seorang budak yang takut dimarahi majikannya. Lagipula hanya karena terlambat pulang. Bahkan memohonkan maaf baginya pula. Sehingga karena harunya, mereka berkata, “Kami memaafkan dan bahkan membebaskannya. Kedatangannya kemari bersama anda karena untuk mengharap ridha Allah semata”. Budak itu tak terhingga rasa terima kasihnya. Bersyukur atas karunia Allah swt dan kebebasannya karena dari Rasulullah S.A.W .

Rasulullah S.A.W pulang dengan hati gembira. Telah bebas satu perbudakan dengan mengharap ridha Allah swt sepenuhnya. Beliau juga tak lupa mendoakan para wanita itu agar mendapatkan berkah dari Allah swt. Semoga semua harta dan turunan serta semoga selalu tetap dalam keadaan iman dan islam. Beliau sibuk memikirkan peristiwa sehari tadi. Hari yang penuh berkah dan karunia Allah swt semata.

Akhirnya beliau berujar dengan, “Belum pernah kutemui berkah angka delapan sebagaimana hari ini. Delapan dirham yang mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan serta memerdekakan seorang budak”. Bagi seseorang muslim yang memberikan pakaian pada saudara sesama muslim, Allah akan memelihara selama pakaian itu masih melekat.

Sumber: CD Keislaman

Sunday, July 14, 2013

Dzalim

Muflis

Suatu ketika Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah muflis itu?”

Para sahabat menjawab, “Yaitu orang-orang yang tidak memiliki satu dinar pun dan tidak pula satu dirham pun alias bangkrut.”

Rasulullah berkata, “Bukan itu yang dimaksud sebagai muflis. Orang muflis adalah orang yang ketika hidup di dunia dia banyak melakukan kebaikan, dia shalat, zakat, dan juga berhaji. Namun pada saat yang sama ia sering berbuat dzalim terhadap orang lain. Sehingga, ketika di akhirat kelak segala amal kebaikannya habis untuk melunasi tuntutan orang-orang yang dianiayanya. Dan ketika tuntutan itu belum selesai, saking banyaknya orang yang didzalimi sedangkan amal kebaikannya telah habis, maka kesalahan-kesalahan orang-orang itu akan ditimpakan kepadanya. Itulah orang muflis yang akhirnya menderita di akhirat karena amalnya ketika di dunia sia-sia belaka.”

Setiap manusia berpotensi untuk melakukan kedzaliman terhadap sesamanya. Dan, apabila ia memegang suatu kekuasaan memimpin maka potensi berbuat dzalim terhadap sesama semakin besar. Dan semakin tinggi wilayah kuasa seseorang maka potensi berbuat dzalim itu pun semakin besar pula.

Kekhawatiran inilah yang ditangkap oleh Khalifah Umar ibn Khattab ketika menerima amanah memimpin kaum Muslimin. Hari-harinya dilalui dengan amat berat karena memikul tanggung jawab atas urusan seluruh umat yang apabila ia lalai maka ia telah berbuat dzalim terhadap seluruh kaum Muslimin.

Rasa khawatir itu pula yang menjadikan air mata Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sering tertumpah tatkala diberi amanah memimpin umat. Hari-hari yang dijalani adalah hari-hari yang terasa berat menanggung urusan umat. Mereka adalah termasuk orang-orang yang khawatir terjerumus ke dalam golongan orang-orang muflis yang merugi di akhirat karena berbuat dzalim terhadap sesama.

Friday, July 12, 2013

Kesederhanaan Rasulullah


Dan Umar Pun Menangis

Pernahkah anda membaca dalam riwayat akan Umar bin Khatab menangis? Umar bin Khatab terkenal gagah perkasa sehingga disegani lawan maupun kawan. Bahkan konon, dalam satu riwayat, Nabi menyebutkan kalau Syeitan pun amat segan dengan Umar sehingga kalau Umar lewat di suatu jalan, maka Syeitan pun menghindar lewat jalan yang lain. Terlepas dari kebenaran riwayat terakhir ini, yang jelas keperkasaan Umar sudah menjadi buah bibir di kalangan umat Islam. Karena itu kalau Umar sampai menangis tentulah itu menjadi peristiwa yang menakjubkan.

Mengapa “singa padang pasir” ini sampai menangis?

Umar pernah meminta izin menemui Rasulullah. Ia mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisku.

Rasul yang mulia bertanya, “mengapa engkau menangis ya Umar?” Umar menjawab, “bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera”.

Nabi berkata, “mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

Rezeki

Tawakal Dan Ikhtiar

Secara singkat AA Gym menyatakan bahwa manusia harus Tawakal, harus percaya bahwa Allah SAW itu sangat sayang kepada Umat Manusia, oleh karena itu telah menyediakan segala yang ada di bumi ini untuk keperluan manusia.

Tapi menurut AA Gym manusia tidak cukup hanya Tawakal. Karena Allah juga tidak suka kepada manusia yang tidak berupaya, tidak ber-Ikhtiar.

Dicontohkan oleh AA Gym bahwa manusia itu hendaknya memperhatikan apa yang dilakukan oleh seekor cecak ketika dia harus menghidupi dirinya mencari makan.

Cecak itu adalah binatang yang melata, merayap, padahal makanannya adalah nyamuk (binatang yang bisa terbang).

Teryata cecak itu tetap tawakal, dia percaya Allah tidak akan menyia nyiakan dia tanpa makanan di dunia ini, tapi cecak juga mengerti bahwa untuk tetap dapat hidup, tidak cukup hanya tawakal. Bila hanya berbekal Tawakal, maka dia tak akan bisa menangkap cecak yang selalu terbang.

Jadi apa yang harus dibuat nya selain tawakal? Nah cecak harus berusaha (Ikhtiar), dia akan berupaya mengejar nyamuk yang dapat terbang.

Bagaimana caranya? Cecak lalu bertindak seolah olah dia itu benda mati, kadang kadang secara diam diam dia juga harus merayap. Semua perbuatannya itu dilakukan dengan hati hati, supaya nyamuk tidak sadar, bahwa didekat nya ada seekor cecak yang siap menyergapnya.

Setelah ada nyamuk yang betul betul dekat, maka HAP, lalu ditangkap. (ingat lagu anak2 berjudul cecak cecak didinding?).

Lalu AA Gym juga mencontohkan bagaimana seorang sosok manusia yang telah mengikuti langkah langkah seperti cecak.

Seorang manusia yang percaya (tawakal) tapi dia juga berikhtiar

Adalah seorang penjual mangga, dia percaya bahwa semua perbuatan yang didasari dengan tawakal pasti disenangi oleh Allah, tapi dia tidak semata mata mengandalkan ke-tawakalannya tersebut, dia juga berikhtiar.

Pagi pagi setelah sholat subuh, dia lap satu persatu mangga mangga yang hendak di jual nya (supaya sedap dipandang mata), setelah itu ditatanya mangga mangga itu dalam tumpukan yang tersusun dengan baik di keranjang yang hendak dipikulnya.

Sang istri melihat kerajinan suaminya mempersiapkan dagangan nya itu, ketika suami berangkat, sang istri mendoakan semoga rezeki dilimpahkan Allah kepada suami nya yang tawakal dan rajin itu.

Dipasar, pedagang mangga itu tidak hanya sendirian, disebelah kanan dan kiri banyak juga penjual mangga seperti halnya dia yang sedang berupaya mencari sesuap nasi.

Bila ada seorang ibu atau bapak yang mampir di tempat dagang nya, maka pedagang kita ini melayani dengan sopan, tidak marah bila ditawar oleh calon pembeli, dan tidak juga kesal bila ternyata pembeli itu tidak jadi membeli, atau malah akhirnya membeli di lapak sebelahnya.

Dalam hati nya si pedagang berkata, saya telah berikhtiar sebaik-baiknya, saya pun tawakal, bahwa Allah senantiasa memperhatikan rezeki saya, maka ketika sore tiba, pulang lah dia kerumah, disambut oleh sang istri, yang menanyakan bagaimana peruntungan hari ini.

Pedagang kita menjawab, alhamdulillah bu, tidak ada yang beli, tapi saya sudah puas bu, tidak ada satu kali pun pikiran saya buruk, tak satu patah kata yang kasar keluar dari mulut saya, sebaliknya saya telah melayani para calon pembeli dengan ramah, hati mereka rata-rata terhibur oleh keramahan saya, saya telah berhasil membuang jauh jauh rasa dengki saya kepada pedagang disebelah, ketika pembeli yang semula menawar manggaku, ternyata membeli dari lapak nya. Saya telah berbuat banyak kebaikan bu, tapi tidak satupun Mangga kita terjual.

Maka istrinya pun membalas, alhamdulillah Pak, itu lah rezeki kita.

Maka mereka berdua mengucapkan doa syukur, kepada Allah SAW.

Namun, tak berapa lama kemudian datang lah anak mereka, dengan berteriak teriak gembira, “Bapak, Ibu, alhamdulillah saya telah terpilih sebagai mahasiswa yang mendapat beasiswa”.

Nah, rezeki bukan hanya berbentuk uang, rezeki bisa berbentuk apa saja, dan ternyata rezeki itu tidak harus datang melalui diri kita, tapi dapat saja melalui anak kita, melalui istri kita, bahkan melalui orang tua kita.

rezeki bisa berupa kesehatan

rezeki bisa berupa kerukunan keluarga

rezeki bisa berbentuk bea siswa yang diterima oleh anak

Sumber: Email dari Sahabat

Rahasia Iblis

Hikayat Iblis : Dialog Iblis vs Rasulullah SAW

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),

“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”

Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu.”

Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):

“Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?”

Jawab Iblis:

“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.”

Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.

Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):

“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

Jawab Iblis:

“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.

Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.

Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):

“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:

“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.

Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.

Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.

Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):

“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?”

Jawab Iblis:

“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku”

Pertanyaan Nabi (5):

“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:

“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.

Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):

“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:

“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):

“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:

“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):

“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:

“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):

“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

Jawab Iblis:

“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”

Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.

Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”, karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.

Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”

Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):

“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:

“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.

Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):

“Siapa yang serupa dengan engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):

“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):

“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:

“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):

“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”

Jawab Iblis:

“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):

“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?”

Jawab Iblis:

“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):

“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

Jawab Iblis:

Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):

“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):

“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):

“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):

“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:

“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”