Blog Islami yang berdasarkan Quran dan Hadits.

Thursday, July 24, 2014

Sifat Terpuji

Bersabar dan Memberi Maaf
Oleh KH Abdurrahman Wahid

Dalam kitab suci al-Qur’ân dinyatakan: “Demi masa, manusia selalu merugi, kecuali mereka yang beriman, beramal shaleh, berpegang kepada kebenaran dan berpegang kepada kesabaran (Wal-‘ashri innal–insâna la fî khusrin illâ-lladzîna ‘âmanû wa ‘amilus-shâlihâti wa tawâshau bil-haqqi wa tawâshau bis-shabr)” QS al-‘Ashr (103):1-3).

Ayat tersebut mengharuskan kita senantiasa menyerukan kebenaran namun tanpa kehilangan kesabaran. Dengan kata lain, kebenaran barulah ada artinya, kalau kita juga memiliki kesabaran. Kadangkala kebenaran itu baru dapat ditegakkan secara bertahap, seperti halnya demokrasi. Di sinilah rasa pentingnya arti kesabaran.

Demikian pula sikap pemaaf juga disebutkan sebagai tanda kebaikan seorang muslim. Sebuah ayat menyatakan: “Apa yang mengenai diri kalian dari (sekian banyak) musibah yang menimpa, (tidak lain merupakan) hal-hal berupa buah tangan kalian sendiri. Dan (walaupun demikian) Allah memaafkan sebagian (besar) hal-hal itu (mâ ashâbakum min mushîbatin fa bimâ kasabat a’ydîkum wa ya’fû ‘an katsîrin)” (QS al-Syura (42):30).

Firman Allah ini mengharuskan kita juga mudah memberikan maaf kepada siapapun, sehingga sikap saling memaafkan adalah sesuatu yang secara inherent menjadi sifat seorang muslim. Inilah yang diambil mendiang Mahatma Gandhi sebagai muatan dalam sikap hidupnya yang menolak kekerasan (ahimsa), yang terkenal itu. Sikap inilah yang kemudian diambil oleh mendiang Pendeta Marthin Luther King Junior di Amerika Serikat, dalam tahun-tahun 60-an, ketika ia memperjuangkan hak-hak sipil (civil rights) di kawasan itu, yaitu agar warga kulit hitam berhak memilih dalam pemilu.

Hal ini membuktikan, kesabaran dalam membawakan kebenaran adalah sifat utama yang dipuji oleh sejarah. Sebagaimana dituturkan oleh kisah perwayangan, para ksatria Pandawa yang dengan sabar dibuang ke hutan untuk jangka waktu yang lama, juga merupakan contoh sebuah kesabaran. Jadi, kesadaran akan perlunya kesabaran itu, memang sudah sejak lama menjadi sifat manusia.

Tanpa kesabaran, konflik yang terjadi akan dipenuhi oleh kekerasan. Sesuatu yang merugikan manusia sendiri. Kekerasan tidak akan dipakai, kecuali dalam keadaan tertentu. Hal ini memang sering dilanggar oleh kaum muslimin sendiri. Sudah waktunya kita kaum muslimin kembali kepada ayat di atas dan mengambil kesabaran serta kesediaan memberi maaf, atas segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai hikmah.

Antara Dendam dan Maaf

Memberi dan Meminta Maaf
Drs.H. Abdul Rahman

Memberi dan meminta maaf kepada seseorang merupakan sikap yang dianjurkan oleh Allah SWT, sebab dengan sikap tersebut, sikap dendam dan rasa marah dapat dihilangkan. Sifat dendam dan rasa marah itulah sesungguhnya yang sering menyebabkan terjadinya berbagai tindak kekerasan dan kekejaman. Oleh karena itu dengan mengedepankan sikap memberi dan meminta maaf, perbuatan tidak terpuji itu dapat dihindari. Memang diakui bahwa tidak semua dendam dan marah itu timbul akibat seseorang enggan memberi dan meminta maaf, tetapi yang jelas sikap enggan memberi dan meminta maaf dapat menimbulkan dendam dan marah seseorang. Selain itu, sikap mudah memberi dan meminta maaf merupakan salah satu ciri orang bertaqwa. Oleh karenanya, orang yang suka memberi dan meminta maaf nilai kepribadiannya dan ketaqwaannya sangat luhur. Itulah sebabnya maka sikap ini senantiasa dimiliki oleh para nabi dan rasul Allah, para sahabat utama Nabi Muhammad SAW, para ahli sufi dan orang-orang yang saleh.

Sikap seperti itu misalnya ditunjukkan oleh Nabi Yusuf AS, yang memaafkan saudara-saudaranya yang dulu membuang beliau, bahkan memasukkannya ke dalam sumur. Sikap tersebut juga ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang memberi maaf kepada penduduk Makkah yang memusuhi dakwahnya, menyiksa, dan mengusirnya. Dengan sikap inillah satu persatu seluruh penduduk Makkah masuk Islam dengan berbondong-bondong. Demikian pula beliau senantiasa meminta maaf kepada para sahabatnya dan ummatnya, walaupun mereka mengakui bahwa beliau tidak pernah berbuat salah terhjadap mereka. Menjelang akhir hayatnya, beliau mengumumkan dihadapan para sahabatnya bahwa beliau meminta maaf kepada mereka dan menyampaikan kepada mereka bahwa siapa-siapa yang merasa disakiti atau tersinggung selama dalam kepemimpinannya agar mereka mengumumkannya dan mempersilahkan untuk menuntut balas dendam kepada beliau. Maka pada akhir hayatnya beliau tidak meninggalkan kesalahan sama sekali, bahkan beliau meninggal dengan penuh keharuman dan ditengah-tengah kecintaan ummat yang amat mendalam. Sikap pemaaf Rasulullah SAW juga diteladani oleh para sahabatnya dan orang-orang yang saleh. Dalam hal sikap pemaaf, Allah SWT berfirman yang artinya :
........ dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran : 134)
Ayat tersebut sedang menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa, yang berarti sikap suka memberi dan meminta maaf adalah termasuk sikap orang yang bertaqwa.

Namun yang masih kita prihatinkan hingga sekarang ini adalah masih banyaknya orang yang enggan memberi maaf atas kesalahan yang diperbuat orang lain, walaupun orang tersebut sudah bertaubat dan meminta maaf. Juga masih banyak orang yang tidak mau meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan terhadap orang lain. Padahal jelas-jelas kesalahan itu dilakukan olehnya. Akibat sikap enggan memberi dan meminta maaf itulah maka sifat-sifat dendam, marah, dan benci yang ada di masyarakat itu timbul dikarenakan dari keengganan tersebut sulit dihilangkan. Akhirnya sifat-sifat tersebut merusak tali persaudaraan. Keengganan memberi dan meminta maaf itu terjadi karena :
Pertama, akibat rasa dendam yang timbul dalam hati. Rasa dendam itu kemudian melahirkan kemarahan sehingga seseorang sulit untuk meminta maaf, bahkan lebih buruk lagi jika timbul tindakan balas dendam. Tindakan balas dendam inilah yang akhirnya merugikan dan meresahkan masyarakat. Memang rasa dendam bisa timbul salah satu sebabnya karena seseorang enggan memberi dan meminta maaf, tetapi karena dendam pula seseorang menjadi enggan memberi dan meminta maaf.

Sifat dendam yang kemudian tidak mempedulikan kata maaf terhadap seseorang itu bisa terjadi karena dua sebab yaitu karena dengki (iri hati) dan akibat kejahatan yang dilakukan seseorang terhadap orang yang dendam itu.
Dendam yang timbul karena dengki itu merupakan penyakit hati manusia yang tidak ingin melihat orang lain bahagia atau sukses. Hanya karena tidak senang melihat orang bahagia / sukses, ia terkadang tega melakukan tindak kejahatan. Karena itu penyakit dengki merupakan penyakit hati yang berbahaya sekali, yang harus dikikis habis dari dalam diri manusia. Adapun dendam yang timbul akibat kejahatan orang lain sehingga terdorong ingin melakukan balas dendam, hal itu juga tidak dibenarkan oleh Islam. Sebab tindakan balas dendam hanya akan melahirkan tindakan serupa dari pihak yang dirugikan.

Oleh karena itu jalan yang paling baik adalah menghilangkan sifat atau rasa dendam tersebut. Sebab dengan hilangnya sifat atau rasa dendam itu, maka seseorang akan menjadi pemaaf, sedangkan sifat pemaaf ini akan menimbulkan simpati orang lain, hingga orang lain yang semula hatinya keras dapat berubah menjadi lunak. Yang dulunya benci menjadi cinta, yang kemarin memusuhi menjadi pembela, dan yang semula antipati berubah menjadi pendukung berat. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad SAW, mendapat pengikut yang besar sekali, hingga seluruh penduduk jazirah Arab masuk Islam. Sekiranya beliau memiliki sifat dendam dan kasar, pasti mereka akan lari dari beliau karena takut akan tindakan balasan dari beliau terhadap mereka yang dulu pernah memusuhinya. Dalam hal sifat Nabi itu, Allah SWT berfirman yang artinya :
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu..” (QS. Ali Imran :159)

Kedua, yang menyebabkan seseorang enggan memberi atau meminta maaf ialah karena merasa tidak pernah berbuat salah. Yang demikian itu karena ia merasa tindakannya benar, dan sudah sesuai dengan prosedur hukum. Padahal tindakannya itu nyata-nyata menyengsarakan dan merugikan orang lain. Hal itu dapat terjaddi karena seseorang tidak mau mengkoreksi dirinya, yang demikian karena ia tidak mempunyai pegangan dan dasar yang kuat yang dapat dijadikan jalan untuk bermuhasabah (mengkoreksi diri).

Mengukur perbuatan jika hanya dengan pendapatnya sendiri, maka yang bersangkutan akan merasa selalu benar. Oleh sebab itu ukuran yang paling tepat untuk mengukur perbuatan seseorang ialah Al-Qur’an. Sebab dengan Al-Qur’an itulah seseorang akan mampu melihat secara adil terhadap dirinya sendiri. Sehingga bila terdapat kesalahan pada dirinya ia tidak segan-segan mengakuinya dan meminta maaf kepada yang dirugikan. Maka marilah kita senantiasa bermuhasabah agar kita senantiasa ingat bahwa kita terkadang juga bisa berbuat salah. Dengan kesadaran inilah kita akan mudah mengakui kesalahan dan tidak perlu menyalahkan orang lain. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Hasyr:18)

Ketiga, yang menyebabkan seseorang enggan memberi dan meminta maaf ialah karena menyangka bahwa sikap memberi dan meminta maaf itu merupakan simbul kelemahan dan kekalahan. Oleh karenanya seseorang akan merasa rendah diri jika harus memberi atau meminta maaf terlebih dahulu.
Anggapan seperti itu sungguh sangat keliru, karena justru sikap suka memberi dan meminta maaf itulah seseorang menjadi luhur derajatnya. Sebaliknya keengganan memberi atau meminta maaf itu menyebabkan seseorang menjadi rendah derajatnya. Satu bukti bahwa dengan sikap pemaaf Rasulullah SAW, itulah beliau semakin luhur pribadinya, dicintai ummatnya, dan semakin banyak pengikutnya, yang berarti pula semakin besar kekuatannya. Jika demikian bisa ditegaskan bahwa didalam sikap pemaaf itu ada keluhuran dan kemenangan. Dalam hal memberi maaf, Allah SWT berfirman yang artinya :
“...dan pema`afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah : 237 )

Dari uraian ini dapat disimpulkan : Pertama, sikap mau memberi dan meminta maaf merupakan bukti keluhuran pribadi seseorang dan salah satu ciri orang yang bertaqwa. Kedua, dengan sikap tersebut, maka rasa dendam, benci dan permusuhan dapat dihilangkan.

Sebagai penutup marilah kita tumbuhkan dalam diri kita sikap suka memberi dan meminta maaf terhadap orang lain. Semoga Allah senantiasa memaafkan kesalahan-kesalahan kita dan memberkahi kita semua, Amin.

Wednesday, July 2, 2014

Hamba Yang Dicintai Allah

1. Orang yang mencintai Allah dan rasul-Nya
Ta'atilah allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.  
(  سورة آل عمران  , Aal-e-Imran, Chapter #3, Verse #132)

2. Orang yang bertaqwa/muttaqin
Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.  
(  سورة آل عمران  , Aal-e-Imran, Chapter #3, Verse #76)


3. Orang yang beriman/mu'minin
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.  
(  سورة الأحزاب  , Al-Ahzab, Chapter #33, Verse #43)


4. Orang yang berbuat baik/muhsinin
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #195)


5. Orang yang berbuat adil/muqsithin
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.  
(  سورة المائدة  , Al-Maeda, Chapter #5, Verse #42)


6. Orang yang sabar/shabirin
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  
(  سورة الأنفال  , Al-Anfal, Chapter #8, Verse #46)


7. Orang yang bertawakal/mutawakkilin
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.  
(  سورة الحجرات  , Al-Hujraat, Chapter #49, Verse #13)


8. Orang yang bertaubat/tawwabin
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,  
(  سورة التوبة  , At-Taubah, Chapter #9, Verse #117)


9. Orang yang suci/mutathohhirin
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #222)


10. Orang yang berjuang di jalan Allah dalam organisasi
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.  
(  سورة الصف  , As-Saff, Chapter #61, Verse #4)

Saturday, June 28, 2014

Sabar

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.  
(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #177)

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),  
(  سورة الرعد  , Ar-Rad, Chapter #13, Verse #22)

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.  
(  سورة النحل  , An-Nahl, Chapter #16, Verse #96)

Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.  
(  سورة الروم  , Ar-Room, Chapter #30, Verse #60)

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min , laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.  
(  سورة الأحزاب  , Al-Ahzab, Chapter #33, Verse #35)

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.  
(  سورة الزمر  , Az-Zumar, Chapter #39, Verse #10)

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.  
(  سورة غافر  , Ghafir, Chapter #40, Verse #55)

Wednesday, June 25, 2014

Selamat Berpuasa

(1)  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #183)
(2)  (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari- hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #184)
(3)  (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari- hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.  

(  سورة البقرة  , Al-Baqara, Chapter #2, Verse #185)

Thursday, September 12, 2013

Wanita Utama

Sayidatina Fatimah r.ha

Dia besar dalam suasana kesusahan. Ibundanya pergi ketika usianya terlalu muda dan masih memerlukan kasih sayang seorang ibu. Sejak itu, dialah yang mengambil alih tugas mengurus rumahtangga seperti memasak, mencuci dan menguruskan keperluan ayahandanya.
Di balik kesibukan itu, dia juga adalah seorang yang paling kuat beribadah. Keletihan yang ditanggung akibat seharian bekerja menggantikan tugas ibunya yang telah pergi itu, tidak pula menghalang Sayidatina Fatimah daripada bermunajah dan beribadah kepada Allah S.W.T. Malam- malam yang dilalui, diisi dengan tahajud, zikir dan siangnya pula dengan sholat, puasa, membaca Al Quran dan lain-lain. Setiap hari, suara halusnya mengalunkan irama Al Quran.
Di waktu umurnya mencapai 18 tahun, dia dikawinkan dengan pemuda yang sangat miskin hidupnya. Bahkan karena kemiskinan itu, untuk membayar mas kawin pun suaminya tidak mampu lalu dibantu oleh Rasulullah S.A.W.
Setelah berkawin kehidupannya berjalan dalam suasana yang amat sederhana, gigih dan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Digelari Singa Allah, suaminya Sayidina Ali merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW yang diamanahkan untuk berada di barisan depan dalam tentera Islam. Maka dari itu, seringlah Sayidatina Fatimah ditinggalkan oleh suaminya yang pergi berperang untuk berbulan-bulan lamanya. Namun dia tetap ridho dengan suaminya. Isteri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra daripada seorang suami. Namun bagi Sayidatina Fatimah r.ha, saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah S.W.T untuk mencari kasih-Nya, melalui ibadah-ibadah yang dibangunkan.
Sepanjang pemergian Sayidina Ali itu, hanya anak-anak yang masih kecil menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya Hassan, Hussin, Muhsin, Zainab dan Umi Kalsum diusahakan sendiri. Untuk mendapatkan air, berjalanlah dia sejauh hampir dua batu dan mengambilnya dari sumur yang 40 hasta dalamnya, di tengah teriknya matahari padang pasir.
Kadangkala dia lapar sepanjang hari. Sering dia berpuasa dan tubuhnya sangat kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.
Pernah suatu hari, ketika dia sedang tekun bekerja di sisi batu pengisar gandum, Rasulullah datang berkunjung ke rumahnya. Sayidatina Fatimah yang amat keletihan ketika itu lalu meceritakan kesusahan hidupnya itu kepada Rasulullah S.A.W. Betapa dirinya sangat letih bekerja, mengangkat air, memasak serta merawat anak-anak. Dia berharap agar Rasulullah dapat menyampaikan kepada Sayidina Ali,kalau mungkin boleh disediakan untuknya seorang pembantu rumah. Rasulullah saw merasa terharu terhadap penanggungan anaknya itu.
Namun baginda amat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya sewaktu di dunia untuk membeli kesenangan di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan ujian di dunia demi mengharapkan keridhoan-Nya, mereka inilah yang mendapat tempat di sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah r.ha sambil memberikan harapan dengan janji-janji Allah. Baginda mengajarkan zikir, tahmid dan takbir yang apabila diamalkan, segala penanggungan dan bebanan hidup akan terasa ringan.
Ketaatannya kepada Sayidina Ali menyebabkan Allah S.W.T mengangkat darjatnya. Sayidatina Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan keluarga mereka. Tidak juga dia meminta-minta hingga menyusah-nyusahkan suaminya.
Dalam pada itu, kemiskinan tidak menghilang Sayidatina Fatimah untuk selalu bersedekah. Dia tidak sanggup untuk kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Dia tidak rela hidup senang dikala orang lain menderita. Bahkan dia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah dari pintu rumahnya tanpa memberikan sesuatu meskipun dirinya sendiri sering kelaparan. Memang cocok sekali pasangan Sayidina Ali ini karena Sayidina Ali sendiri lantaran kemurahan hatinya sehingga digelar sebagai ‘Bapa bagi janda dan anak yatim di Madinah.
Namun, pernah suatu hari, Sayidatina Fatimah telah menyebabkan Sayidina Ali tersentuh hati dengan kata-katanya. Menyadari kesalahannya, Sayidatina Fatimah segera meminta maaf berulang-ulang kali.
Ketika dilihatnya raut muka suaminya tidak juga berubah, lalu dengan berlari-lari bersama anaknya mengelilingi Sayidina Ali. Tujuh puluh kali dia ‘tawaf’ sambil merayu-rayu memohon dimaafkan. Melihatkan aksi Sayidatina Fatimah itu, tersenyumlah Sayidina Ali lantas memaafkan isterinya itu.
“Wahai Fatimah, kalaulah dikala itu engkau mati sedang Ali tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyembahyangkan jenazahmu,” Rasulullah SAW memberi nasehat kepada puterinya itu ketika masalah itu sampai ke telinga baginda.
Begitu tinggi kedudukan seorang suami yang ditetapkan Allah S.W.T sebagai pemimpin bagi seorang isteri. Betapa seorang isteri itu perlu berhati-hati dan sopan di saat berhadapan dengan suami. Apa yang dilakukan Sayidatina Fatimah itu bukanlah disengaja. bukan juga dia membentak – bentak, marah-marah, meninggikan suara, bermasam muka, atau lain-lain yang menyusahkan Sayidina Ali k.w. meskipun demikian Rasulullah SAW berkata begitu terhadap Fatimah.
Ketika perang Uhud, Sayidatina Fatimah ikut merawat luka Rasulullah. Dia juga turut bersama Rasulullah semasa peristiwa penawanan Kota Makkah dan ketika ayahandanya mengerjakan ‘Haji Wada’ pada akhir tahun 11 Hijrah. Dalam perjalanan haji terakhir ini Rasulullah SAW telah jatuh sakit. Sayidatina Fatimah tetap di sisi ayahandanya. Ketika itu Rasulullah membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah r.ha membuatnya menangis, kemudian Nabi SAW membisikkan sesuatu lagi yang membuatnya tersenyum.
Dia menangis karena ayahandanya telah membisikkan kepadanya berita kematian baginda. Namun, sewaktu ayahandanya menyatakan bahwa dialah orang pertama yang akan berkumpul dengan baginda di alam baqa’, gembiralah hatinya. Sayidatina Fatimah meninggal dunia enam bulan setelah kewafatan Nabi SAW, dalam usia 28 tahun dan dimakamkan di Perkuburan Baqi’, Madinah.
Demikianlah wanita utama, agung dan namanya harum tercatat dalam al-Quran, disusahkan hidupnya oleh Allah S.W.T. Sengaja dibuat begitu oleh Allah kerana Dia tahu bahawa dengan kesusahan itu, hamba-Nya akan lebih hampir kepada-Nya. Begitulah juga dengan kehidupan wanita-wanita agung yang lain. Mereka tidak sempat berlaku sombong serta membangga diri atau bersenang-senang. Sebaliknya, dengan kesusahan-kesusahan itulah mereka dididik oleh Allah untuk senantiasa merasa sabar, ridho, takut dengan dosa, tawadhuk (merendahkan diri), tawakkal dan lain-lain.
Ujian-ujian itulah yang sangat mendidik mereka agar bertaqwa kepada Allah S.W.T. Justru, wanita yang sukses di dunia dan di akhirat adalah wanita yang hatinya dekat dengan Allah, merasa terhibur dalam melakukan ketaatan terhadap-Nya, dan amat bersungguh-sungguh menjauhi larangan-Nya, biarpun diri mereka menderita.

Imam Ghazali

Pertanyaan imam ghazali

“Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran :185)

“Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
MASA LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

“Apa yang paling besar di dunia ini?”
HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.

“Apa yang paling berat di dunia?”
MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.

“Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat.

“Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.